Forest-based industries on the edge of survival

January 7th, 2010 | etin_rodiana

p17-b_19img_assist_custom-400x300

Benget Besalicto Tnb. ,  The Jakarta Post ,  Jakarta   |  Mon, 01/04/2010 10:14 AM  |  Business

Indonesia’s forest-based industries remain on the edge of survival after more than a decade of government decentralization that was accompanied by a series of failed policies and mismanagement.

The situation deteriorated in 2009 as the domestic troubles were coupled by a slump in global demand that was caused mainly by two factors: the greatest financial crisis in history and the growth in global awareness of the sustainable management of forests.

The annual value of Indonesia’s exports of wood products — mainly panel products such as plywood, sawn timber and woodworks — has been decreasing since at least 2003 when the value stood at 5.4 million cubic meters and was followed by 4.6 million in 2004, 3.5 million in 2005, 3.1 million in 2006, 2.9 million in 2007, and 1.68 million cubic meters in 2008.

For 2009, it is seemingly impossible to reach the same level as the previous year as, by the end of November, the total exports had only reached 1.2 million cubic meters.

Industry players said the government was failing to keep up with global reality, regardless of the numerous regulatory amendments made in the past few years.

David, a vice president at the publicly listed PT Sumalindo Lestari Jaya, said the “improvements in forest governance” had yet to help boost the growth of the country’s forest-based industries.

“In fact, this situation has persisted for the last 10 years, except for the pulp and paper sector.

Forest-based industries have continued to decrease.

“While demand from the international market continues to increase, we see the shrinking of our market share,” David said.

China is an ideal model for Indonesia to follow in terms of its ability to diversify its products and improve its value-added production system.

“In 1991, while our production of panels had reached about 10 million cubic meters, China only produced about 1 million cubic meters. But then in 2007, China managed to supply 74 million cubic meters or one third of the total global demand, which stood at 220 million cubic meters of panels,” he said.

David said to produce the panels and other wood products China needed about 200 million cubic meters of logs every year, which were mostly supplied from its 26 million hectares of plantation forests.

Policy making in Malaysia is another good example for the Indonesian government, he said.

“If China managed to sell wood products at cheaper prices due to availability of cheap logs from its plantation forests, Malaysia did it through its costs allocation that enabled it to spread the costs across all wood products, from high-value ones to lower-value ones, such as logs, which are allowed to be exported, unlike in Indonesia,” he said.

The Malaysian government has also been pursuing all-out efforts to help market the country’s wood products on the international market.

“Considering their achievements, I don’t think they only rely on buying illegal logs from Indonesia, as many people here have suspected up to now. I think, instead of only thinking of the negative aspects, we should look upon their achievements as a lesson to learn,” David said.

Nana Suparna, deputy chairman of the Association of Indonesian Forest Businessmen (APHI), concurred with David, saying that, especially over the last three years, all forest industries have been struggling to survive.

“For example, many plywood industries have had to lay off workers or reduce their working hours due to the slump in sales,” he said.

Nana deemed the situation would worsen, with more companies collapsing, should the government refrain from implementing the necessary fiscal incentives for the forest-based industries.

The government, at the request of the House of Representatives, plans to introduce various fiscal incentives, as hinted at by Forest Minister Zulkifli Hasan recently.

“We all agree that the government should increase its income from forest-related taxes. But it should not be done by choking the industries themselves. It should help them expand their businesses,”

“The more their businesses grow, the more the government’s tax income increase will be. I think instead of raising taxes it should help us by providing incentives to expand,” Zulkifli said.

The implementation of fiscal incentives in conjunction with the improvement of the global economy would serve as a positive momentum for domestic companies, both David and Nana said.

National Forest Council chairman Taufiq Aliani said only by further improving its forest governance could Indonesia manage to attract new investment and help develop trust on the international market on the legality and sustainable management of Indonesian forests and forest products.

Taufiq said the government should go ahead with the formation of an independent agency for wood legality verification, as demanded by the Forestry Ministry regulation No. 38 that was issued in 2009.

The agency, which membership include the government, industry players and non-government organizations, will be responsible for monitoring the implementation of all verification processes and also overseeing a dispute settlement body for conflicts on wood legality.

“Unlike what happens now, the government’s influence on the verification process and dispute settlement is too direct and too dominant,” Taufiq said.

Such a dominant influence, he said, would be prone to abuse of power and corruption, thus increasing the distrust of foreign buyers, particularly those from Europe and the United States.

FSP2KI akan mengajukan calon independent

January 6th, 2010 | etin_rodiana

Petani-Buruh Karawang akan Umumkan Bakal Calon Bupati
Minggu, 03 Januari 2010 15:45 WIB

KARAWANG–MI: Serikat Petani Karawang (Sepetak) bersama sejumlah serikat buruh di Kabupaten Karawang akan mengumumkan pasangan bakal calon bupati dan wakil bupati untuk pemilihan kepala daerah (pilkada) pada pertengahan Januari 2010.

“Kami segera mengumumkan nama pasangan bakal calon Bupati dan Wakil Bupati Karawang dari calon independen pilihan para petani dan sejumlah serikat buruh di Karawang,” kata Koordinator Sepetak Deden Sofyan, di Karawang, Minggu (3/1).

Para petani bersama sejumlah serikat buruh di Karawang sudah sepakat akan memajukan kadernya secara bersama-sama melalui calon independen pada Pilkada Kabupaten Karawang yang akan digelar sekitar Oktober 2010, bukan dari partai politik (parpol).

Menurut dia, para petani dan buruh di Karawang bukan tidak percaya keberadaan parpol, sehingga memilih calon independen. Tapi, karena hingga kini keberadaan parpol dirasa membela kaum buruh dan petani, maka Sepetak bersama sejumlah serikat buruh akan mencalonkan kadernya maju bersama pada pilkada.

“Kami akan segera mengumumkan nama pasangan balon bupati dan wakil bupati yang akan maju pada pilkada nanti. Saat ini, sudah banyak nama-nama yang muncul, baik dari serikat buruh maupun dari Sepetak,” katanya.

Dikatakannya, pasangan balon bupati dan wakil bupati yang akan maju pada Pilkada Karawang itu merupakan perwakilan dari sejumlah serikat buruh dan petani. Jika perwakilan petani menjadi bakal calon bupati, maka wakilnya ialah perwakilan dari serikat buruh, atau sebaliknya.

Sebelum diumumkan nama pasangan balon independen dari perwakilan sejumlah serikat buruh dan petani yang maju pada Pilkada nanti, akan dilakukan deklarasi tiga pilar perjuangan rakyat (Perak), yang rencananya akan digelar pada pekan pertama Januari.

Isi tiga pilar Perak yang akan dideklarasikan itu ialah industrialisasi pertanian, politik ekonomi kerakyatan, dan kesejahteraan bagi pekerja.

Baru setelah dideklarasikan tiga pilar perak tersebut, gabungan petani dan sejumlah serikat buruh akan melakukan penjaringan pasangan balon bupati dan wakil bupati, melalui konvensi.

“Dari hasil konvensi itu, nantinya akan ada nama pasangan balon yang akan maju pada Pilkada Karawang nanti,” kata Deden. (Ant/OL-02)

Semangat Baru FSP2KI

January 5th, 2010 | etin_rodiana

logo-fsp2ki

Selamat Tahun baru 2010..

semoga tahun 2010 menjadi moment kebangkitan FSP2KI..

Semoga tahun 2010 menjadi darah segar bagi seluruh komponen FSP2KI untuk lebih meningkatkan semangat dalam berkomitmen mengembangkan FSP2KI…

Tahun 2007 sebagai moment kebangkitan FSP2KI menjadi tonggak sejarah lahirnya FSP2KI, tahun 2008 menjadi tahun meraba dan menyusun asa FSP2KI, tahun 2009 menjadi tahun awal kenyataan dan keinginan untuk serius di FSP2KI..sehingga tahun 2010 semestinya menjadi tahun kebangkitan dari semua itu..karena di tahun 2011, FSP2KI diharuskan melahirkan generasi baru yang siap menghadapi tantangan di tahun2 selanjutnya..

Sadarilah kalau FSp2KI belum menjadi apa2…

Masih membutuhkan komitmen dan keseriusan dalam menjalankannya..

Semoga kawan2 terpacu untuk lebih serius dalam mengemban amanah FSP2KI..!!

Menyikapi Politik Buruh

December 30th, 2009 | etin_rodiana

Sabtu, 26 Desember 2009 | 03:23 WIB

Surya Tjandra

Sebuah pertemuan bersejarah kaum buruh Indonesia bertajuk ”Trade Unions Meeting for Political Consensus” dilaksanakan di Sukabumi, 23-25 November 2009.

Pertemuan ini digagas Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia dan diselenggarakan bersama dengan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia, Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia, Friedrich Ebert Stiftung Indonesia, dan the American Center for International Labor Solidarity, serta dihadiri oleh sekitar 50 aktivis dari sejumlah organisasi.

Diberitakan Kompas (23/11), pertemuan ini bertujuan membangun gerakan buruh yang lebih solid, antara lain terkait isu reformasi jaminan sosial, pengawasan ketenagakerjaan, dan perlawanan terhadap sistem kontrak. Wacana untuk melebur ketiga konfederasi tersebut juga digulirkan (Kompas, 24/11).

Pertemuan ini bersejarah karena memang baru pertama kali dilaksanakan sejak reformasi 1998, di mana berbagai serikat buruh arus utama berkumpul dan membicarakan isu yang selama ini praktis disingkirkan dari wacana para aktivis serikat buruh sendiri: politik.

Reformasi memang memberikan kebebasan buruh untuk berorganisasi, tetapi itu tidak berarti pengaruhnya juga meningkat. Setelah mengalami depolitisasi dan deorganisasi selama 30 tahun Orde Baru, seiring reformasi, serikat buruh mulai membangun pengaruhnya meski masih jauh dari yang diharapkan.

Bukti paling nyata adalah rendahnya keanggotaan serikat buruh, sementara fragmentasi gerakan buruh relatif tinggi. Pada awal 1998 tercatat hanya ada 1 serikat buruh, tahun 2002 menjadi 45, dan tahun 2005 menjadi 90. Namun, jumlah keanggotaan serikat buruh justru menurun dari 8.281.941 orang tahun 2002 menjadi 3.338.597 orang tahun 2005, atau hanya 6-7 persen dari total 50 juta buruh di sektor formal (data hasil verifikasi Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi) .

Ini berakibat pada lemahnya posisi tawar serikat buruh dalam penentuan kebijakan yang menyangkut buruh, seperti politik pasar kerja maupun khususnya perundingan kolektif.

Lemahnya posisi tawar serikat buruh mengakibatkan ketergantungan buruh pada ketentuan undang-undang yang berlebihan. Sebagian besar buruh Indonesia, misalnya, masih amat bergantung pada ketentuan upah minimum untuk menaikkan upahnya.

Sebagian besar buruh praktis hanya naik upahnya kalau upah minimum juga naik. Ini yang menjelaskan mengapa upah minimum selalu menjadi isu panas setiap tahun.

Serikat buruh juga tidak banyak berpengaruh terhadap fakta 30 persen buruh tetap dan 50 persen buruh lepas bekerja dengan upah di bawah ketentuan upah minimum (Saget 2006). Selain itu, sejak sepuluh tahun reformasi, upah riil buruh praktis tidak pernah naik dari kisaran Rp 200.000 per bulan dibandingkan dengan sebelum 1998 yang setiap tahun rata-rata naik 5 persen (Dhanani dkk 2009).

Serikat buruh barangkali memang sudah diakui keberadaannya oleh pemerintah dengan, misalnya, pengesahan Undang-Undang Serikat Pekerja/Serikat Buruh Tahun 2000 serta ratifikasi Konvensi ILO No 87 dan 98 tentang kebebasan berorganisasi dan berunding bersama. Namun, serikat buruh tampaknya masih belum juga diakui oleh pengusaha.

Upaya serikat buruh untuk memperjuangkan kesejahteraan anggotanya sering kali berakhir dengan pemutusan hubungan kerja pengurusnya atau bahkan penutupan perusahaan secara sepihak.

Oleh karena itu, pertemuan seperti di Sukabumi dan khususnya gagasan untuk menyatukan ketiga konfederasi tersebut adalah sesuatu yang memang sudah sepatutnya dilakukan kalau memang serikat buruh ingin menguatkan posisi tawar di hadapan pengusaha dan pemerintah, juga masyarakat.

Namun, belum sempat hasil-hasilnya disosialisasikan, pertemuan tersebut sudah mengundang kritik dari sebagian kelompok buruh. Komite Pusat Perhimpunan Rakyat Pekerja (KP-PRP), misalnya, menilai ketiga konfederasi yang hadir tidak menyuarakan kepentingan buruh, malah justru sering mendukung kebijakan pemerintah yang merugikan buruh.

KP-PRP juga menilai para elite pimpinan ketiga konfederasi tersebut hanya mempermainkan nasib semua buruh di Indonesia demi kepentingan pribadinya, sementara buruh tetap saja miskin (Bisnis Indonesia, 23/11).

Fenomena ini sekali lagi membuktikan betapa gerakan serikat buruh di Indonesia masih lemah.

Di negara maju, seperti Eropa, konsolidasi dan penggabungan organisasi buruh yang berbeda sudah berlangsung sejak dekade lalu. Khususnya seiring penurunan jumlah anggota, yang berarti juga pengaruh, serikat buruh akibat globalisasi.

Dengan kata lain, penyatuan dan penggabungan serikat justru untuk memperkuat posisi berhadapan dengan pengusaha dan pemerintah.

Di Indonesia, dalam situasi lemahnya serikat, upaya konsolidasi gerakan serikat buruh dengan mudah dikaitkan dengan manipulasi elite pimpinan buruh, yang ujungnya penundukan terhadap penguasa dan pengusaha, untuk kepentingan pribadi elite serikat buruh.

Dalam konteks itu, kritik KP-PRP harus dilihat sebagai upaya untuk demokratisasi internal gerakan serikat buruh. Dalam arti inisiatif para elite pimpinan serikat buruh, sebaik apa pun, perlu juga mendapatkan dukungan dari basisnya. Alih-alih mendebatkan siapa lebih benar, barangkali akan lebih bermanfaat untuk terus membangun persatuan buruh yang sesungguhnya.

Serikat buruh penting untuk didukung karena ia mewakili satu dari sedikit institusi yang dapat mendorong sebagian tuntutan untuk pemerataan dan keadilan sosial di masyarakat.

Sejarah menunjukkan semua alternatif dari kecenderungan saat ini yang tidak menguntungkan masyarakat secara umum didasarkan pada pengorganisasian dari kekuatan ini, yang, tidak dapat dihindarkan, seperti dulu juga terjadi di Eropa, adalah proses yang panjang dan sering kali menyakitkan.

Surya TjandraDosen FH Unika Atma Jaya, Jakarta; Sedang Menempuh Studi Bidang Hukum Perburuhan di Institut Van Vollenhoven, Universitas Leiden, Belanda

Selamat Hari Ibu

December 22nd, 2009 | etin_rodiana

Ibu…dihari ini engkau diperingati oleh seluruh orang di dunia, engkau dikenang, disanjung, disayang dan lain sebagainya.

Jasamu sungguh sangat besar untuk kehidupan keluarga, berkat jasamu tersebut dapat membangun citra sebuah Keluarga, Bangsa dan Negara.

Dihari ini ingin rasanya memanjakan Ibu untuk melayani berbagai keperluannya, namun pekerjaan di kantor sangat tidak memungkinkan. Kalaupun nanti ada waktu setidaknya pulang kerja langsung menemui dirimu.

Aku sendiri juga seorang Ibu, sungguh berat beban yang aku jalani untuk menjadi seorang Ibu, dari mulai mengandung, melahirkan, merawat anak-anak hingga sampai saat ini. Aku merenung….andaikan ada orang yang tidak menyayangi Ibunya dengan tulus betapa besar dosa yang harus ditanggung…di Agama manapun dijelaskan bahwa Surga Ada di Telapak Kaki Ibu.

Ibu…namamu akan tetap harum dan wangi disetiap denyut nadi dan detak jantungku. Agar aku selalu dapat mengingat dirimu yang telah melahirkan aku ke dunia ini.

Apapun rupa wajahmu..cantik, buruk, jelek dan sebagainya engkau tetap seorang Ibu bagi anak-anakmu.

Selamat Hari Ibu untuk Semua wanita yang ada di Dunia ini, dan jadilah Ibu yang teladan untuk Putra-Putrimu, Nusa, Bangsa dan Agama

Feri Fahrian

Forum revolutioner Indonesia

SEJUTA PENGGANTI

December 21st, 2009 | etin_rodiana

(NN, di ambil dari Cerita Kami no 8, 1994)

biar kau pecat aku
keputusanku adalah keinginan merdeka
yang biasa menyatu dalam luka dan juang
tak kan terhempas dari vonis yang menyiksa
dari banyaknya luka yang berharga

setiap kata yang kutabur
adalah kuman para majikan
setiap jalan yang kutempuh
adalah keyakinan pembebasan tiap penindasan

biar kau peralat tiap aparat
perjuanganku tak kan pernah sekarat
dari setiap penindas yang sekarat
karena otak-otaknya sudah mengkarat

biar kau pecat aku, tidaklah masalah
biar kau tindas aku, tidaklah berubah
toh, perjuanganku tidak sendiri
yang bermula dari penindasan
tak kan berhenti karena aku di bui
karena akan tumbuh sejuta pengganti

FSP2KI: “Membangun Solidaritas Pekerja Pulp dan Kertas”

December 20th, 2009 | etin_rodiana

Salam,
Kawan2??? masih semangat kah kawan2 dalam membesarkan FSP2KI? saya sangat yakin kawan2 masih bersemangat!!
Tahun 2010 adalah momentum kebangkitan FSP2KI…mari kita tetap jaga semangat kita..kebersamaan kita…tentu saja komitmen kita untuk tetap membayar IURAN dan memberikan informasi perkembangan SP anggota kepada kami FSP2KI…
Mohon dapat mengirimkan info dan karya tulis untuk senantiasa dimuat di Blog FSP2KI…
Dalam ebebrapa bulan ke depan kita akan disibukkan dengan berbagai kegiatan seperti pelatihan, Penelitian, organizing, dan Seminar!!
Salam Solidaritas!!

Lokakarya Serikat Pekerja Pada Perusahaan Multi Nasional

December 16th, 2009 | etin_rodiana

gender1

SPPT TEL mengutus penasehat dan sekretaris, mengikuti Loka Karya Serikat Pekerja/Serikat Buruh Pada Perusahaan Multi Nasional dan Sosial Dialog, bertempat di Hotel Santika Jakarta pada tanggal 12-14 November 2009. Lokakarya ini diikuti oleh peserta yang berasal dari 5 (lima) federasi Serikat pekerja/serikat buruh, yaitu:

1. FSP-KEP (Federasi Serikat Pekerja – Kimia, Energi dan Pertambangan)

2. FSP-FARKES Reformasi(Federasi Serikat Pekerja – Farmasi dan Kesehatan)

3. FSP-ISI (Federasi Serikat Pekerja – Industri Semen Indonesia)

4. FPE-SBSI (Federasi Pertambangan dan Energi – Serikat Buruh Sejahtera Indonesia)

5. FSP2KI (Federasi Serikat Pekerja Pulp dan Kertas Indonesia)

Lokakarya ini diselenggaraka oleh ICEM (International Federation of Chemical, Energy, Mine and General Worker’s Union dan FNV (Trade Union Centre in the Netherland).

Hal penting dari lokakarya ini untuk dipelajari adalah “Bahwa setiap perusahaan Multi Nasional seharusnya menerapkan standar Internasional pada perusahaannya dimanapun mereka ada” adapun standar International yang harus diterapkan tersebut bersumber pada :

1. Standar utama perburuhan ILO ada 4 area yang terdiri 8 konvensi dasar ILO yaitu:

– Konvensi no. 87 tahun 1948 “Kebebasan berserikat dan perlindungan atas hak berorganisasi”

– Konvensi no. 98 tahun 1949 “Hak berorganisasi dan berunding bersama”

– Konvensi no. 29 tahun 1930 “Kerja paksa”

– Konvensi no.105 tahun 1957 “Penghapusan kerja paksa”

– Konvensi no.138 tahun 1973 “ Usia kerja minimum”

– Konvensi no.182 tahun 1999 “Bentuk-bentuk terburuk dari pekerja anak”

– Konvensi no.100 tahun 1951 “Upah yang sama pada pekerjaan yang sama”

– Konvensi no.111 tahun 1958 “Tidak ada diskriminasi di tempat kerja”

2.Panduan OECD(Organization for Economic and Cooperation Development)  untuk MNCs yang terdiri dari 10 bab tapi hanya ada 2 bab yang sangat perlu untuk dilaksanakan yaitu:

– BAB 3 : Keterbukaan informasi dan

– BAB 4 : Ketenagakerjaan dan hubungan industri , yang isinya adalah rangkuman dari standar minimum ILO diatas.

3.Perjanjian Global PBB (UN Global Compact) yang terdiri dari 4 asas pokok yaitu: Hak asasi manusia, Standart perburuhan, Lingkungan dan Anti Korupsi.

4.Perjanjian kerangka kerja International IFA (International Framework Agreement)/Perjanjian Global, yang isinya mengakui standart minimum pada perushaan Multi Nasional.

Dari ke 4 sumber standar Internasional tersebut maka dapat disimpulkan bahwa “Poin – poin umum standar Internasional” adalah :

1. Hak Pekerja untuk berorganisasi dan berunding

2. Kegiatan Serikat Pekerja yang dilindungi oleh UU dan peraturan yang berlaku

3. Fasilitas yang layak untuk perundingan bersama

4. Upah yang layak untuk hidup yang layak

5. Syarat – syarat kerja dan jam kerja yang baik

6. K3

7. Berbagi informasi

8. Hak berkonsultasi

9. Pelatihan kerja dan peningkatan keterampilan/skill.


ICEM MNC Regional Evaluations In Bangkok

Trade Union & Social Dialogue In MNCs “Regional Evaluation Meeting” diadakan di Had Song Kwae Resort-Saraburi, Thailand pada tanggal 21-23 November 2009. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari “Lokakarya Serikat Pekerja/Serikat Buruh Pada Perusahaan Multi Nasional dan Dialog Social” yang diadakan di Jakarta.

Kegiatan ini diikuti oleh delegasi dari 6 (enam) negara yaitu Thailand, Indonesia, Malaysia, Vietnam, India dan Korea. Pada pertemuan ini FSP2KI diwakili oleh SPPT TEL yang kemudian mengutus sdr. Yulian Effendi. Pertemuan ini adalah evaluasi seluruh kegiatan ICEM selama tahun 2008 dan 2009 serta rencana kerja tahun 2010 dan 2011. Pada kesempatan in Yulian Effendi juga mempromosikan Palembang sebagai tempat pelatihan ICEM di tahun 2010.

GENDER AUDIT FASILITATOR 2009 BY ILO

SPPT TEL yang mendapat fasilitas dari FSP2KI mengutus Putu Rika dari kantor Jakarta bersama Fitri Novela dri SP Uni Graha dan Komalasari dari SP RAK untuk mengikuti Pelatihan Jender Audit Fasilitator yang diadakan oleh ILO di Tapos Bogor, tanggal 9-12 November 2009.


Rapat Kerja UNI Grafical Regional Asia

December 14th, 2009 | etin_rodiana

Dalam upaya membangun jaringan internasional, FSP2KI mengirimkan 4 orang perwakilannya ke Regional Asia Working Group Di Bangkok, Thailand 7 – 11 Desember 2009. Rapat Kerja ini diadakan oleh UNI Global Union Grafical.09122009390-1

Rapat ini membahas strategi organisasi serikat pekerja kertas untuk mengorganisir pekerja di sector packaging di karenakan sector ini juga berkaitan langsung dengan sector kertas.

Dalam pembahasannya, dilakukan penelitian ebrsma soal perusahaan multinasional apa saja yang ada di setiap negara dan kemungkinan- kemungkinan sikap perusahaan tersebut pada gerakan serikat pekerja di perusahaannya.

UNI Global akan membuat perjanjian global dengan perusahaan tersebut yang berkaitan dengan :

1. Kebebasan berserikat

2. Standarisasi pengupahan.

3. Pengajuan pekerja outsourcing menjadi pekerja permanen/tetap.

4. Standard kesehatan dan keselamatan kerja.

5. Menjaga tidak terjadinya penutupan pabrik dikarenakan investasi baru.

Delegasi indonesia yang dihadiri Sekjen FSP2KI Etin Rodiana, Dept Litbang Andar Tarihoran, Pendiri FSP2KI Nelson Saragih, dan Ketua SP Tanjungenim Lestari SUMSEL Ashal, memaparkan beberapa perusahaan multinasional yang ada di indonesia, dan ternyata semua perusahaan multinasional sektor packaging terdapat memiliki pabrik di indonesia, diantaranya : Kimberly Clark, Tetrapax, Amcor Indonesia, G&D, dan Donatel.

Rapat yang berlangsung selama 4 hari ini ditutup dengan penampilan setaip delegasi untuk membawakan lagu nasional dan pakaian nasional, dalam kesempatan ini delegasi indonesia ( FSP2KI ) menggunakan pakaian BATIK dan menyanyikan lagu HALUSIA ( SUMUT ).

Bulan Maret 2010, setiap negara akan diundang kembali dalam pertemuan laporan hasil penelitian di tiap negara, yang rencananya akan dilaksanakan di Berlin JERMAN.

Iraqi Trade Unionist Murdered

December 1st, 2009 | etin_rodiana

The daily dangers continually faced by trade union officials and activists in Iraq were graphically demonstrated by the brutal murder 26 November, 2009 of Majiid Karim, an executive member of the General Federation of Iraqi Workers. Brother Karim died when his car exploded. An improvised explosive device, believed to have been timed, had been attached to his car by as yet unknown individuals.

The GFIW is the largest national trade union centre in Iraq, two of its affiliates covering workers in the Oil and Gas and Electric Power Industries are affiliated to ICEM.

Majiid Karim had been a key union official ignoring the anti-trade union legislation from the Saddam era and actively organizing workers in the public sector despite continued government attempts to use legislation 150 of 1987 to ban public sector workers from trade union membership. He was also a key figure in building unity among Iraqi workers and in the trade union movement.

ICEM joins the GFIW in mourning their loss, as well as joining their demand that the Iraqi government and its security authorities conduct an urgent and thorough investigation to uncover the full circumstances of this appalling criminal act, and ensure that the guilty are brought to justice.

We will keep you informed of the case as more information becomes available.